Rabu, 23 Januari 2013

PEMBELAJARAN SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN


A. Pengertian Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidikan
            Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman.           
1. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri.
2. Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diobservasi
         Kita  telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan kita semua telah belajar dalam suatu tahap dalam hidup kita. Dengan perkataan lain, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespons sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya. Hal-hal inilah yang akan mendidik seseorang untuk menjadi orang yang terdidik.


B. Pilar-Pilar Pendidikan
            Komisi Pendidikan untuk Abad XX1 (Unesco 1996: 85) melihat bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah belajar (learning). Selanjutnya dikemukakan bahwa pendidikan bertumpu pada 4 pilar, yaitu (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, learning to live with other, dan (4) learning to be.
1. Learning To Know
            Learning to know adalah upaya memahami instrumen-instrumen pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan. Sebagai alat, pengetahuan tersebut diharapkan akan memberikan kemampuan setiap orang untuk memahami berbagai aspek lingkungan agar mereka dapat hidup dengan harkat dan martabatnya dalam rangka mengembangkan keterampilan kerja dan berkomunikasi dengan berbagai pihak yang diperlukan.  

          Sebagai tujuan, maka pengetahuan tersebut akan bermanfaat dalam rangka peningkatan pembahaman, pengetahuan serta penemuan di dalam kehidupannya. Upaya-upaya ke arah pemerolehan pengetahuan ini tidak akan pernah ada batasnya, dan masing-masing individu akan secara terus menerus memperkaya pengetahuan dirinya dengan bebagai pengalaman yang diteimukan dalam kehidupannya. Upaya-upaya ini akan berlangsung secara terus-menerus yang pada gilirannya melahirkan kembali konsep belajar sepanjang hayat.
           
2. Learning To Do
            Belajar  untuk  mengaplikasi  ilmu,  bekerja  sama  dalam  team, 
belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Learning to do lebih ditekankan pada bagaimana mengajarkan anak-anak untuk mempraktikkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya dan dapat mengadaptasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut dengan pekerjaan-pekerjaan di masa depan. Memperhatikan secara cermat kemajuan-kemajuan serta perubahan-perubahan yang terjadi, maka pendidikan tidak cukup hanya dipandang sebagai transmisi atau melaksanakan tugas-tugas rutin, akan tetapi harus mengarah pada pemberian kemampuan untuk berbuat menjangkau kebutuhan-kebutuhan dinamis masa mendatang, karena lapangan kerja masa mendatang akan sangat tergantung pada kemampuan untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan yang melahirkan usaha atau pekerjaan-pekerjaan baru . hal ini akan mejadi tonggak penting untuk membentuk kemampuan, kemampuan serta kesadaran atas berkembagnnya ekonomi baru yang berbasis pengetahuan. Sebagaimana juga pada pilar pertama, maka belajar menerapkan sesuaut yang telah diketahui juga harus dilakukan secar terus-menerus, karena proses perubahan juga akan berjalan tanpa hentinya. Dengan keinginan yang kuat untuk belajar melakukan sesuatu, maka setiap orang akan terlepas dari tindakan-tindakan yang tidak memiliki nilai-nilai posifit bagi kehidupannya, dan hal ini memiliki arti sangat penting bagi kehidupannya, dan hal ini memiliki arti sangat penting dalam memelihara proses dan lingkungan kehidupan yang memberikan ketentraman bagi diri orang lain.       
3. Learning To Live Together
         
Belajar  memahami  dan  menghargai  orang  lain,  sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. Learning to live together, pada dasarnya adalah mengajarkan, melatih dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik. Persaingan dalam misi ini harus dipandang sebagai upaya-upaya yang sehat untuk mencapai keberhasilan, bukan sebaliknya bahwa persaingan justru mengalahkan nilai-nilai kebersamaan bahkn pengehancuran terhadap orang lain atau pihak lain untuk kepentingan sendiri. Dengan demikian diharapkan kedamaian dan keharmonisan hidup benar-benar dapat diwujudkan.

          Dalam proses pembelajaran, pengembangan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan guru dan sesama siswa yang dilandasi sikap saling menghargai harus perlu secara terus menerus dikembangakan di dalam setiap even pembelajaran. Kebiasaan-kebiasaan untuk bersedia seringkali kurang mendapat perhatian oleh guru, karena dianggap sebagai hal rutin yang berlangsung saja pada kegiatan sehari-hari. Padahal kemampuan ini tidak dapat berkembang dengan baik begitu saja, akan tetapi membutuhkan latihan-latihan yang terbimbing dari guru. Kebiasaan-kebiasaan saling menghargai yang dipraktikkan di ruang-ruang kelas dan dilakukan secara terus-menerus akan menjadi bekal bagi siswa untuk dapat dikembangakan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Learning To Be
            Belajar  untuk  dapat  mandiri,  menjadi  orang  yang  bertanggung 
jawab untuk mewujudkan tujuan bersama. Learning to be, sebagaimana diungkapkan secara tegas oleh komisi pendidikan, bahwa prinsip fundamental pendidikan hendaknya mampu memberikan kontribusi untuk perkembangan seutuhnya setiap orang, jiwa dan raga, intelegensi, kepekaan, rasa etika, tanggung jawab pribadi dan nilai-nilai spiritual. Semua manusia hendaklah diberdayakan untuk berfikir mandiri dan kritis dan mampu membuat keputusan sendiri dalam rangka menentukan sesuatu yang harus dilakukan (Komisi Internasional Pendidikan untuk Abad XX1 1996: 94). Kehawatiran yang mendalam terhadap terjadinya “dehumanisasi” sebagai akbiat terjadinya perubahan, merupakan salah satu pertimbangan mendasar untuk pentingnya penekanan kembali belajar untuk menjadi diri sendiri. Oleh sebab itu, melalui kegiatan pembelajaran, setiap siswa harus terus didorong agar mampu memberdayakan dirinya melalui laithan-latihan pemecahan masalah-masalahnya sendiri, mengambil keputusan sendiri dan memikul tanggung jawab sendiri. Dalam keadaan ini pendidikan dan pembelajaran hendaknya dapat memberikan kekuatan, membekali strategi dan cara agar siswa mampu memahami dunia sekitarnya serta mampu mengembangkan talenta yang dimiliknya untuk dapat hidup secara layak di tengah-tengah berbagai dinamika dan gejolak kehidupan maysarakat.
Keempat pilar pendidikan sebagaimana dipaparkan di atas, sekaligus merupakan misi dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan. Melalui kegiatan belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang atau belajar menjadi diri sendiri yang didasari keinginan secara sungguh-sungguh maka akan semakin luas wawasan seseorang tentang pengetahuan, tentang nilai-nilai posifit, tentang orang lain serta tentang berbagai dinamika perubahan yang terjadi. Kesemuanya ini diharapkan menjadi modal fundamental bagi seseorang untuk mampu mengarahkan dirinya dalam berprilaku positif berpijak pada nilai-nilai yang dia yakini kebenarannya, dan pada gilirannya akan semakin terbuka pikiran untuk melihat fakta-fakta yang benar dan yang salah, suatu tindakan yang sesungguhnya merugikan ataupun membawa kemajuan bagi diri dan orang lain. Kemampuan-kemampuan tersebut juga akan membekali individu untuk mampu melihat secara nyata betapa konflik dan pertikaian-pertikaian telah memberikan banyak kerugian di dalam tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa, dan merugikan diri serta lingkungannya. Pada sisi lain seseorang juga akan mampu melihat bagaimana suasana yang harmoni dapat memberikan kenyamanan dan ketentraman dalam hidup, sehingga memberikan banyak kesempatan bagi suatu masyarakat dan bangsa mencapai kemajuan-kemajuan yang lebih berarti bagi semua orang.

Rabu, 23 Januari 2013

PEMBELAJARAN SEBAGAI PILAR UTAMA PENDIDIKAN


A. Pengertian Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidikan
            Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman.           
1. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri.
2. Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diobservasi
         Kita  telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan kita semua telah belajar dalam suatu tahap dalam hidup kita. Dengan perkataan lain, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespons sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya. Hal-hal inilah yang akan mendidik seseorang untuk menjadi orang yang terdidik.


B. Pilar-Pilar Pendidikan
            Komisi Pendidikan untuk Abad XX1 (Unesco 1996: 85) melihat bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah belajar (learning). Selanjutnya dikemukakan bahwa pendidikan bertumpu pada 4 pilar, yaitu (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, learning to live with other, dan (4) learning to be.
1. Learning To Know
            Learning to know adalah upaya memahami instrumen-instrumen pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan. Sebagai alat, pengetahuan tersebut diharapkan akan memberikan kemampuan setiap orang untuk memahami berbagai aspek lingkungan agar mereka dapat hidup dengan harkat dan martabatnya dalam rangka mengembangkan keterampilan kerja dan berkomunikasi dengan berbagai pihak yang diperlukan.  

          Sebagai tujuan, maka pengetahuan tersebut akan bermanfaat dalam rangka peningkatan pembahaman, pengetahuan serta penemuan di dalam kehidupannya. Upaya-upaya ke arah pemerolehan pengetahuan ini tidak akan pernah ada batasnya, dan masing-masing individu akan secara terus menerus memperkaya pengetahuan dirinya dengan bebagai pengalaman yang diteimukan dalam kehidupannya. Upaya-upaya ini akan berlangsung secara terus-menerus yang pada gilirannya melahirkan kembali konsep belajar sepanjang hayat.
           
2. Learning To Do
            Belajar  untuk  mengaplikasi  ilmu,  bekerja  sama  dalam  team, 
belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Learning to do lebih ditekankan pada bagaimana mengajarkan anak-anak untuk mempraktikkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya dan dapat mengadaptasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut dengan pekerjaan-pekerjaan di masa depan. Memperhatikan secara cermat kemajuan-kemajuan serta perubahan-perubahan yang terjadi, maka pendidikan tidak cukup hanya dipandang sebagai transmisi atau melaksanakan tugas-tugas rutin, akan tetapi harus mengarah pada pemberian kemampuan untuk berbuat menjangkau kebutuhan-kebutuhan dinamis masa mendatang, karena lapangan kerja masa mendatang akan sangat tergantung pada kemampuan untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan yang melahirkan usaha atau pekerjaan-pekerjaan baru . hal ini akan mejadi tonggak penting untuk membentuk kemampuan, kemampuan serta kesadaran atas berkembagnnya ekonomi baru yang berbasis pengetahuan. Sebagaimana juga pada pilar pertama, maka belajar menerapkan sesuaut yang telah diketahui juga harus dilakukan secar terus-menerus, karena proses perubahan juga akan berjalan tanpa hentinya. Dengan keinginan yang kuat untuk belajar melakukan sesuatu, maka setiap orang akan terlepas dari tindakan-tindakan yang tidak memiliki nilai-nilai posifit bagi kehidupannya, dan hal ini memiliki arti sangat penting bagi kehidupannya, dan hal ini memiliki arti sangat penting dalam memelihara proses dan lingkungan kehidupan yang memberikan ketentraman bagi diri orang lain.       
3. Learning To Live Together
         
Belajar  memahami  dan  menghargai  orang  lain,  sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. Learning to live together, pada dasarnya adalah mengajarkan, melatih dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik. Persaingan dalam misi ini harus dipandang sebagai upaya-upaya yang sehat untuk mencapai keberhasilan, bukan sebaliknya bahwa persaingan justru mengalahkan nilai-nilai kebersamaan bahkn pengehancuran terhadap orang lain atau pihak lain untuk kepentingan sendiri. Dengan demikian diharapkan kedamaian dan keharmonisan hidup benar-benar dapat diwujudkan.

          Dalam proses pembelajaran, pengembangan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan guru dan sesama siswa yang dilandasi sikap saling menghargai harus perlu secara terus menerus dikembangakan di dalam setiap even pembelajaran. Kebiasaan-kebiasaan untuk bersedia seringkali kurang mendapat perhatian oleh guru, karena dianggap sebagai hal rutin yang berlangsung saja pada kegiatan sehari-hari. Padahal kemampuan ini tidak dapat berkembang dengan baik begitu saja, akan tetapi membutuhkan latihan-latihan yang terbimbing dari guru. Kebiasaan-kebiasaan saling menghargai yang dipraktikkan di ruang-ruang kelas dan dilakukan secara terus-menerus akan menjadi bekal bagi siswa untuk dapat dikembangakan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Learning To Be
            Belajar  untuk  dapat  mandiri,  menjadi  orang  yang  bertanggung 
jawab untuk mewujudkan tujuan bersama. Learning to be, sebagaimana diungkapkan secara tegas oleh komisi pendidikan, bahwa prinsip fundamental pendidikan hendaknya mampu memberikan kontribusi untuk perkembangan seutuhnya setiap orang, jiwa dan raga, intelegensi, kepekaan, rasa etika, tanggung jawab pribadi dan nilai-nilai spiritual. Semua manusia hendaklah diberdayakan untuk berfikir mandiri dan kritis dan mampu membuat keputusan sendiri dalam rangka menentukan sesuatu yang harus dilakukan (Komisi Internasional Pendidikan untuk Abad XX1 1996: 94). Kehawatiran yang mendalam terhadap terjadinya “dehumanisasi” sebagai akbiat terjadinya perubahan, merupakan salah satu pertimbangan mendasar untuk pentingnya penekanan kembali belajar untuk menjadi diri sendiri. Oleh sebab itu, melalui kegiatan pembelajaran, setiap siswa harus terus didorong agar mampu memberdayakan dirinya melalui laithan-latihan pemecahan masalah-masalahnya sendiri, mengambil keputusan sendiri dan memikul tanggung jawab sendiri. Dalam keadaan ini pendidikan dan pembelajaran hendaknya dapat memberikan kekuatan, membekali strategi dan cara agar siswa mampu memahami dunia sekitarnya serta mampu mengembangkan talenta yang dimiliknya untuk dapat hidup secara layak di tengah-tengah berbagai dinamika dan gejolak kehidupan maysarakat.
Keempat pilar pendidikan sebagaimana dipaparkan di atas, sekaligus merupakan misi dan tanggung jawab yang harus diemban oleh pendidikan. Melalui kegiatan belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang atau belajar menjadi diri sendiri yang didasari keinginan secara sungguh-sungguh maka akan semakin luas wawasan seseorang tentang pengetahuan, tentang nilai-nilai posifit, tentang orang lain serta tentang berbagai dinamika perubahan yang terjadi. Kesemuanya ini diharapkan menjadi modal fundamental bagi seseorang untuk mampu mengarahkan dirinya dalam berprilaku positif berpijak pada nilai-nilai yang dia yakini kebenarannya, dan pada gilirannya akan semakin terbuka pikiran untuk melihat fakta-fakta yang benar dan yang salah, suatu tindakan yang sesungguhnya merugikan ataupun membawa kemajuan bagi diri dan orang lain. Kemampuan-kemampuan tersebut juga akan membekali individu untuk mampu melihat secara nyata betapa konflik dan pertikaian-pertikaian telah memberikan banyak kerugian di dalam tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa, dan merugikan diri serta lingkungannya. Pada sisi lain seseorang juga akan mampu melihat bagaimana suasana yang harmoni dapat memberikan kenyamanan dan ketentraman dalam hidup, sehingga memberikan banyak kesempatan bagi suatu masyarakat dan bangsa mencapai kemajuan-kemajuan yang lebih berarti bagi semua orang.

About Me

Foto Saya

Aku memang seperti racun yang berbahaya. Tapi bukan metana yang membutakan mata. Bukan Sianida yang mencabut nyawa. Ataupun narkotika yang menghancurkan dunia.
Aku seperti bromin di silver queen yang membuatmu ceria. Aku seperti tehin di sosro yang membuatmu tertawa. Aku seperti cafein di nescafe yang membuatmu terjaga. Dan aku ingin seperti nikotin yang luar biasa...!
Tetaplah kalian semua menjadi teman terbaik. Walau aku selalu datang dengan baju terbalik. Aku tak biasa mewah, kusimpan itu batik. Dengan oblong murah , aku sudah menarik.. :)
Aku sendiri tak mampu mengerti. Untuk Mengumbar kata tak berwarna. Untuk meronai siapa itu widya. Karena widya selalu berbeda. . .

Thank's your attention